11 April, 2013

Untuk ASHAR ARSYAD


Roda pembaruan pembelajaran di sekolah TERUS digulirkan oleh DBE3. Pelatihan yang diikuti oleh para guru ini akan memicu perubahan, tidak sekadar menguatkan metode CBSA, PAKEM, tapi benar-benar mencerahkan guru plus ICAREnya. Dengan hadirnya PRIORTIAS kini, roda perubahan pembelajaran kini kian mengalami perubahan peningkatan yang semakin signifikan. Buktinya ... kabupaten Mitra DBE menempati urutan atas dalam prestasi peserta didik. DBE melahirkan banyak guru prestasi tingkat nasional. Empat tahun terakhir, wakil sulsel untuk guru teladan dari kabupaten mitra .... (benner kan???). Secara langsung atas bimbingan Pak Ashar ... OOooohhh tentu TIIIDAAAAK. Tetapi ...hal tsb memiliki garis singgung dengan ASHAR ARSYAD. PRIORITAS kini hadir di tengah-tengah para guru yang merambah dunia pendidikan. Dan "katanya" ... ekspand dengan sekian kabupaten .... sungguh suatu terobosan yang SMART dalam peningkatan SDM Tenaga Pendidik dan Kependidikan di satuan pendidikan. Semoga .... saya yang dipedalamn, masih terimbas di PRIORITAS ini .... (Ha..ha...ha..... ngerayu ni yooo).
Untuk ASHAR ARSYAD ..... Laa raeba pilih .......

AZHAR ARSYAD : BERGELUT DALAM DUNIA GURU



Sulitkah Menjadi Guru Sukses dan Profesional Agar Dicintai Murid-muridnya Sampai Mati? Ashar Arsyad pernah berkata pada saya ”MENJADI guru itu gampang-gampang susah. Mengampu pelajaran tertentu yang telah ditekuni sekian lama dan terus berulang tentu bukanlah pekerjaan sulit. Namun menghadapi murid yang selalu berganti tiap tahun, memiliki karakter berbeda, dan tingkat penyerapan terhadap materi pelajaran yang tak sama, pasti membutuhkan kesabaran dan ketelatenan yang tinggi”…. Masih terngiang kalimat tsb. Memang…, guru yang tak sabar dan kurang telaten akan terkurung oleh frustasi. Profesi mulia sebagai guru terasa sebagai sebuah beban yang terus menghimpit. Bisa-bisa guru menjadi stres. Padahal guru dalam berbagai sisi menjadi ukuran nilai yang darinya murid bercermin untuk merangkai makna keteladanan.
Lalu bagaimanakah cara mengatasi hal tersebut, apakah menjadi seorang guru yang sukses dan profesional dapat dicintai murid-murid?Sulitkah?
Sukses adalah apa yang kita pikirkan dan kita ingin raih. Setiap orang memiliki arti sukses yang berbeda-beda. Ada yang menginginkan kesuksesan dalam bidang karir, materi, profesi, ada juga yang menginginkan kesuksesan dalam bidang sosial keagamaan. Menjadi guru merupakan salah satu profesi unik, di mana kesuksesan guru tidak hanya terkait pada dirinya sendiri, tetapi juga terkait dengan anak didiknya. Seorang guru dianggap berhasil jika mampu menghasilkan anak didik dengan nilai-nilai hasil pelajaran yang baik, akhlak yang baik, sikap mental yang baik, dan juga kemampuan dan keterampilan hidup sesuai dengan usianya. Jadi, sangat menarik bahwa kesuksesan seorang guru terkait tidak hanya saat anak didik belajar di sekolah, tetapi juga saat anak didik tersebut keluar dan lulus dari sekolah.
Menurut saya, penilaian sukses bukan sekedar bahwa seorang guru telah menjalankan program kegiatan belajar secara benar, tetapi justru datang dari anak-anak itu sendiri yang merasa senang dengan aktifitas bermain sambil belajar yang kita diselenggarakan. (Cara seperti telah saya terapkan, imbas dari DBE3 Sulsel-USAID yg ditukangi oleh Kang Ashar Arsyad).
Seorang guru yang sukses adalah guru yang mampu mengelola murid-muridnya dengan baik, mampu mendidik siswa-siswinya dengan penuh kasih sayang, selalu tampak senang dan bersemangat dalam mengajar, dimana dalam hal ini, akan membuat siswa merasa senang dan termotivasi untuk belajar.
Lalu, apakah dengan adanya kesuksesan seorang guru dalam mendidik siswanya, mencerminkan profesionalisme seorang guru?. Mampukah guru memperlihatkan keprofesionalannya dengan nyata?. Solusinya ada …. 
Hal ini akan Nampak apabila Kak Ashar Arsyad diberikan amanah “Duduk di Legislatif” sbg pemikir dalam dunia guru ….
To malebbiku .... ini amanah untuk dari kita semua untuk generasi penerus bangsa .....


09 Maret, 2008

CITRA SEKOLAH KEJURUAN DAN MA SEBAGAI SEKOLAH KELAS DUA

Adalah fenomena bahwa pendidikan atau sekolah itu sudah terkotak- kotak di Indonesia dan dimana-mana di atas dunia ini. Untuk Indonesia ada sekolah agama dan ada sekolah umum, orang yang taat menyebutnya dengan sekolah sekuler. Ada sekolah swasta dan ada sekolah negeri. Kemudian secara vertikal ada Sekolah Dasar (SD), SMP, STLA dan perguruan tinggi. Untuk tingkat SLTA ada namanya SMA, MA dan SMK.
SMA jumlah sangat banyak dan terlihat serba diperhatikan alias dianak emaskan oleh masyarakat, pemerintah dan malah juga oleh media massa. Event- event yang ada di SMA dikupas tuntas dan disebarluaskan, kemudian berita- berita tentang MAN dan SMK porsi nya tidak berimbang dibandingkan SMA. Secara konvensional orang mengatakan bahwa anak- anak yang belajar pada MAN kelak bisa menjadi anak surga (baca: generasi yang taat) dan dulu ketika STM belum lagi dikenal dengan sebutan SMK, dikenalkan sebagai sekolah yang murid- muridnya suka berkelahi massal atau tawuran.
Pemerintah tampaknya menjadikan SMA sebagai “anak emas” dan agar lulusannya bisa berkualitas maka pemerintah (dan juga tokoh politik di DPR) menyelenggarakan berbagai kegiatan dan program yang jauh lebih intensive dan sampai mematok standar kelulusan SMA. Karena hanya dari SMA lah kelak lahir dan bermunculan pemimpin bangsa, tokoh intelektual dan orang- orang hebat. Kemudian mengapa kualitas SMK dan MAN tidak begitu banyak disorot, digubris, dicikaraui apakah tak mungkin akan lahir pemimpin bangsa dan orang orang hebat dari kedua institusi pendidikan ini (?).
Dunia pendidikan atau dunia sekolah itu ibarat anak kecil, itu karena di sana merupakan tempat kedua terjadinya proses sosialisasi bagi anak-anak (anak didik) setelah rumah mereka. Anak- anak yang memperoleh cukup perhatian, banyak pengalaman dan kaya rangsangan atau stimulus secara kognitif, psikomotorik dan afektif akan tumbuh menjadi anak yang percaya diri. sementara anak yang merasa kurang diperhatikan dan kurang pula dalam memperoleh stimulus dan kesempatan untuk bereksperimen, cenderung mempunyai karakter “withdrawal” atau suka menarik diri, mengalami perasaan inferior complex atau rendah diri.
Masyarakat dan pemerintah adalah ibarat orang tua bagi dunia pendidikan. Sebut saja anak mereka yang berusia remaja bernama “SMK, MAN dan SMA’. Dewasa ini perhatian pemerintah menurut kacamata orang awam, perhatian mereka terhadap pendidikan siswa SMA sungguh banyak porsinya. Bila ada prestasi yang diukir oleh siswa SMA maka publikasinya terasa sangat menggema sampai ke mana- mana sementara publikasi tentang kegiatan yang ada pada SMK dan Man cenderung sepi atau biasa- biasa saja.
Anggaplah pemerintah cukup bersikap adil (dan memang pemerintah sudah adil dalam memberikan kebijakan terhadap pendidikan di SMA, SMA dan SMK), namun sekarang tinggal lagi perlakuan masyarakat (?).
Adalah fenomena dalam masyarakat, bahwa SMA adalah sekolah bagi anak- anak yang ingin melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Masukan anak ke MAN agar ia bisa menjadi orang taat dan SMA adalah sekolah sekuler. Kemudian pilihlah SMK kalau orangtua tidak mampu secara finansial, dan biar lah anak belajar di sana agar kelak cepat memperoleh kerja – menjadi pekerja, menjadi buruh atau menjadi TKI (?).
Dalam setting pada mulanya, keberadaan SMA, SMK dan MAN adalah sama dan cukup bagus. Namun dalam pelaksanaan dalam masyarakat terlihat kecendrungan bahwa kalau orang tua punya anak yang cerdas atau ingin punya anak cerdas maka mereka harus mengirim (dan mencarikan SMA) yang berbobot untuk mendidik mereka, agar kelak bisa tumbuh jadi orang terpandang. Apa saja persyaratan yang diminta oleh komite sekolah (di SMA) terhadap orang tua, maka hampir seratus persen akan dipenuhi. Sementara itu bila anak kalah dalam seleksi otak, atau anak orang tuanya kalah seleksi secara finansial atau keuangan maka mereka diultimatum, direkomendasikan atau sangat dianjurkan agar memilih SMK saja. Maka jadilah SMK ini sebagai tempat bersekolahnya anak- anak dengan mental inferior complex, berasal dari orang tua dengan ekonomi lemah dan anak- anak yang kualitas otaknya kurang beruntung.
Adalah fenomena umum bahwa kualitas pendidikan sekolah agama itu dipandang lebih rendah dari sekolah umum. Citra ini diciptakan sendiri oleh anak didik dan masyarakat. Tengoklah eksistensi ini pada banyak sekolah. Anak- anak pintar yang belajar di sana semuanya bermimpi agar bisa kuliah kelak pada universitas favorite yang berada di pulau Jawa atau kalau perlu langsung di universitas luar negeri. Kalau gagal maka tahun depan (atau sudah pasang ancang- ancang) untuk memilih universitas ngetop di provinsi mereka. Bila gagal atau merasa kemampuan otak lemah maka dengan rasa enteng mereka memilih perguruan tinggi Islam, dan pada akhirnya berkumpulah orang orang yang kultur dan percaya diri nya rendah belajar di perguruan tinggi ini.
Kemudian juga menjadi fenomena bahwa dalam rekruitmen tenaga pendidik, maka orang yang merasa pintar cenderung memilih sebagai guru SMA, kemudian sisanya bagi yang merasa diri bersahaja atau takut kalah dalam persaingan , mereka memilih untuk menjadi tenaga pengajar pada MAN.
Dalam fakta bahwa cukup banyak guru berkualitas dan bermutu yang hadir sebagai tenaga pendidik di MAN dan SMK. Namun kenapa kedua sekolah ini tidak menggeliat dalam hal mutu secara umum(?). keberadaan tenaga pendidik agaknya tidak lah menjadi masalah karena mereka bersal dari perguruan tinggi yang sama dengan rekan- rekan mereka di SMA. Yang menjadi masalah adalah sikap anak didik yang belajar di sana, sebagai produk sosialisasi dari rumah mereka, yang terbentuk dari lingkungan rumah untuk menjadi orang yang serba bersahaja, sikap fatalistic atau pasrah dan ini adalah menjadi tugas bagi pemerintah dan masyarakat untuk menyembuhkan gejala inferior complex mereka.
Kalau sekolah MAN dan SMK merasa sebagai sekolah kelas dua, gara- gara citra yang telah dibentuk oleh masyarakat, pemerintah, aktor politik dan pemberitaan media massa . Maka untuk mengembalikan harga diri atau citra mereka, tentu menjadi tanggung jawab masyarakat, pemerintah, aktor politik dan media massa pula.
Masyarakat tentu perlu juga untuk memberikan perhatian dan partisipasi dalam membesarkan dan menumbuhkan harga diri kedua sekolah ini. Adalah juga tepat bila orang tua memiliki anak cerdas dan super cerdas menyuruh mereka untuk belajar di sini dan kemudian ikut mendukung program pengembangan mutu pendidikan. Pemerintah dan aktor politik juga harus adil. Bila mereka berdebat tentang kualitas pendidikan di SMA- seperti membahas angka kelulusan SMA, maka coba pulalah untuk berdebat untuk meningkatkan kualitas pendidikan di sekolah MAN dan SMK. Kemudian media masa juga harus berimbang dalam pemberitaan, janganlah hanya rajin mencari berita yang serba bagus ke SMA, tapi ia juga perlu bekerja intensive untuk meliput pendidikan pada MAN dan SMK. Media Massa hanya rajin meliput .Pendidikan MAN (agama) seputar bulan puasa Cuma.
Namun sebagai orang yang mau dewasa, maka Man dan SMK juga tidak boleh menyalahkan pihak lain- masyarakat, pemerintah, aktor politik dan orang tua atau masyarakat sebagai sumber masalah, menjadikan kedua sekolah ini sebagai sekolah kelas dua. Dalam pelajaran agama kita diberitahu bahwa “Tuhan tidak akan mengubah nasib suatu kaum (nasib kita), kecuali kita sendiri yang mengubah nasib ini”. Maka MAN dan SMK bisa dan harus menjadi sekolah kelas satu (first class), usahanya harus dilakukan oleh segenap personalia di sekolah ini- guru, murid, orang tua dan lingkungan.
Sekolah ini perlu melakukan publikasi , melakukan lomba yang eventnya dikemas seapik mungkin dan dipublikasikan. Untuk SMA biasanya ada lomba English speech contest, maka siswa MAN juga harus menggelar Arabic Speech contest, dan setting suasana menjadi moderen. SMK mungkin bisa melakukan robot creative contest. Atau perlombaan kreativitas lain. Kemudian kedua sekolah ini coba menumbuhkan prilaku yang smart (walau cukup banyak prilaku yang sama terjadi pada beberapa SMA), mengembangkan sikap intelektual, sikap kritis, menjauhi sikap kekanak- kanakan. Mengembangakan program kepintaran berganda anatara IQ, SQ dan EQ. pintar dengan angka- angka, pintar olah raga, pintar berpidato, pintar mengelola waktu, menguasai bahasa asing, komputer dan internet dan mantap nilai keimanan. Pendek kata berimbang anatara IPTEK dan IMTAQ (ilmu pengetahuan dan tekhnologi- serta iman dan taqwa).

Oleh: Marjohan
Guru SMA Negeri 3 Batusangka

MODEL-MODEL PERENCANAAAN PENDIDIKAN

Beberapa model perencanaan pendidikan yang patut diketahui, antara lain:
a. Model Perencanaan Komperehensif
Model ini terutama digunakan untuk menganalisis perubahan-perubahan dalam system pendidikan secara keseluruhan. Di samping itu berfungsi sebagai suatu patokan dalam menjabarkan rencana-rencana yang lebih spesifik kea rah tujuan-tujuan yang lebih luas.

b. Model Target Setting
Model ini diperlukan dalam upaya melaksanakan proyeksi ataupun memperkirakan tingkat perkembangan dalam kurun waktu tertentu. Dalam persiapannya dikenal:
1. Model untuk menganalisis demografis dan proyeksi penduduk
2. Model untuk memproyeksikan enrolmen( jumlah siswa terdaftar ) sekolah
3. Model untuk memproyeksikan kebutuhan tenaga kerja.

c. Model Costing dan keefektifan biaya
Model ini sering digunakan untuk menganalisis proyek-proyek dalam criteria efisien dan efektifitas ekonomis. Dengan model ini dapat diketahui proyek yang paling fleksibel dan memberikan suatu perbandingan yang paling baik di antara proyek-proyek yang menjadi alternative penanggulangan masalah yang dihadapi.
Penggunaan model ini dalam pendidikan didasarkan pada pertimbangan bahwa pendidikan itu tidak terlepas pada pertimbangan bahwa pendidikan itu tidak terlepas dari masalah pembiayaan. Dan, dengan sejumlah biaya yang dikeluarkan selama proses pendidikan, diharapkan dalam kurun waktu tertentu dapat memberikan benefit tertentu.

d. Model PPBS
PPBS (planning, programming, budgeting system) bermakna bahwa perencanaan, penyusunan program dan penganggaran dipandang sebagai suatu system yang tak terpisahkan satu sama lainnya. PPBS merupakan suatu proses yang komprehensif untuk pengambilan keputusan yang lebih efektif. Beberapa ahli memberikan pengertian, antara lain: Kast Rosenzweig (1979) mengemukakan bahwa PPBS merupakan suatu pendekatan yang sistematik yang berusaha untuk menetapkan tujuan, mengembangkan program-program, untuk dicapai, menemukan besarnya biaya dan alternative dan menggunakan proses penganggaran yang merefleksikan kegiatan program jangka panjang. Sedangkan Harry J. Hartley (1968) mengemukakan bahwa PPBS merupakan proses perencanaan yang komprehensif yang meliputi program budget sebagai komponen utamanya.
Berdasarkan kedua pengertian tersebut di atas dapat di simpulkan bahwa:
1. PPBS merupakan pendekatan yang sistematik. Oleh kaena itu, untuk menerapkan PPBS diperlukan pemahaman tentang konsep dan teori system.
2. PPBS merupakan suatu proses perencanaan komprehensif. Penerapannya hanya dimungkinkan untuk masalah-masalah yang kompleks dan dalam organisasi yang dihadapkan pada masalah yang rumit dan komprehensif.

Untuk memahami PPBS secara baik, maka perlu kita perhatikan sifat-sifat esensial dari system ini. Esensi dari PPBS adalah sebagai berikut:
1. Memperinci secara cermat dan menganalisis secara sistematik terhadap tujuan yang hendak dicapai.
2. Mencari alternative-alternatif yang relevan, cara yang berbeda-beda untuk mencapai tujuan.
3. Menggambarkan biaya total dari setiap alternative, baik langsung ataupun tidak langsung, biaya yang telah lewat ataupun biaya yang akan dating, baik biaya yang berupa uang maupun biaya yang tidak berupa uanag.
4. Memberikan gambaran tentang efektifitas setiap alternative dan bagaimana alternative itu mencapai tujuan.
5. Membandingkan dan menganalisis alternative tersebut, yaitu mencari kombinasi yang memberikan efektivitas yang paling besar dari suber yang ada dalam pencapaian tujuan ( Jujun S, 1980).


Referensi:
Fattah, Nanang. 2001, Landasan Manajemen Pendidikan . Bandung, PT. Remaja Rosdakarya, Cetakan kelima.

Pendidikan

Pendidikan merangkumi proses pengajaran dan pembelajaran kepakaran khusus, dan juga sesuatu yang tidak dapat dilihat tetapi lebih mendalam: pemberian pengetahuan, pertimbangan dan kebijaksanaan. Salah satu asas matlamat pendidikan adalah untuk mengajar kebudayaan melangkaui generasi.

Secara Logis

Pendidikan berawal sejak dalam kandungan sampai mati.Pendidikan sangat urgent dalam masa yang akan datang dan membantu dalam mencari pekerjaan.

Pendidikan mungkin bermula sebelum lahir seperti diharap oleh sesetengah penjaga yang memainkan muzik dan membaca kepada bayi dalam kandungan dengan harapan ia akan berkesan (mengajar) bayi mereka sebelum kelahiran.

Sesetengah yang lain, pergelutan dan kejayaan kehidupan seharian adalah lebih bererti daripada persekolahan rasmi. Seperti kata Mark Twain: "Saya tidak pernah mengizinkan persekolahan menjejaskan pendidikan saya."

Ahli keluarga mempunyai kesan pembelajaran yang amat mendalam -- sering kali lebih mendalam dari yang disedari mereka -- walaupun pengajaran ahli keluarga berlaku secara tidak rasmi.

Kini,banyak komputer memainkan peranan yang penting dalam pendidikan, sama ada sebagai alat bantu mengajar (Internet dan CD-ROM) atau pun melalui pendidikan atas talian (pendidikan jarak jauh).

Pendidikan

Pendidikan merangkumi proses pengajaran dan pembelajaran kepakaran khusus, dan juga sesuatu yang tidak dapat dilihat tetapi lebih mendalam: pemberian pengetahuan, pertimbangan dan kebijaksanaan. Salah satu asas matlamat pendidikan adalah untuk mengajar kebudayaan melangkaui generasi.

Secara Logis

Pendidikan berawal sejak dalam kandungan sampai mati.Pendidikan sangat urgent dalam masa yang akan datang dan membantu dalam mencari pekerjaan.

Pendidikan mungkin bermula sebelum lahir seperti diharap oleh sesetengah penjaga yang memainkan muzik dan membaca kepada bayi dalam kandungan dengan harapan ia akan berkesan (mengajar) bayi mereka sebelum kelahiran.

Sesetengah yang lain, pergelutan dan kejayaan kehidupan seharian adalah lebih bererti daripada persekolahan rasmi. Seperti kata Mark Twain: "Saya tidak pernah mengizinkan persekolahan menjejaskan pendidikan saya."

Ahli keluarga mempunyai kesan pembelajaran yang amat mendalam -- sering kali lebih mendalam dari yang disedari mereka -- walaupun pengajaran ahli keluarga berlaku secara tidak rasmi.

Kini,banyak komputer memainkan peranan yang penting dalam pendidikan, sama ada sebagai alat bantu mengajar (Internet dan CD-ROM) atau pun melalui pendidikan atas talian (pendidikan jarak jauh).

09 Desember, 2007

PENDIDIKAN HARUS TERINTEGRASI

Siapa yang bisa menjamin bahwa semua orang yang menempuh pendidikan saat ini akan meneruskan pendidikan hingga jenjang perguruan tinggi. Bahkan ada yang harus menerima kenyataan, berhenti meski masih pada jenjang pendidikan dasar.

Pemerintah memang boleh saja telah mencanangkan wajib belajar pendidikan dasar sembilan tahun. Tapi ruang untuk bisa menyelesaikan pendidikan pendidikan dasar sembilan tahun itu belum dibuka secara lebar.

Artinya, peluang bagi anak usia sekolah dasar untuk tidak bersekolah masih sangat besar. Sebab, masih banyak hambatan yang harus dihadapi. Antara lain faktor biaya. Meski belakangan, sebagian daerah sudah mengagas pendidikan gratis.

Tapi yang gratis itu tidak selamanya baik. Yang gratis juga ternyata tak selamanya benar-benar gratis. Itulah kenyataan yang membuat banyak anak di usia sekolah dasar tetap harus menjatuhkan pilihan – secara terpaksa – untuk tidak lanjut sekolah.

Hingga kini, tidak ada data pasti berapa banyak anak yang putus sekolah dari Sekolah Menegah Pertama (SMP) ke Sekolah Menengah Atas (SMA) dari tahun ke tahun di Sulsel. Oleh karena itu masalah ini harus segera ditangani untuk menyelamatkan agar anak-anak tetap cinta sekolah. Sekaligus disiapkan menyongsong dunia baru mereka, sebagai remaja.

Dan ternyata, jawaban atas persoalan itu adalah pendidikan dasar yang diberikan sudah harus terintegrasi. Dengan begitu, meski harus putus sekolah, mereka telah memiliki (minimal sekali) bekal untuk menghadapi tantangan.Sebutlah misalnya, kemampuan bahasa Inggris untuk dunia kerja. Ini merupakan satu hal yang sangat penting dewasa ini. Hampir tak ada orang yang bekerja tanpa memiliki kemampuan bahasa Inggris.

Selain itu, pengenalan terhadap teknologi, khususnya komputer. Ini juga sangat mendasar. Sebab, tanpa kemampuan tersebut, mustahil orang bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih. Karena itulah, konsep pendidikan yang akan diterapkan ke depan, haruslah pendidikan yang terintegrasi. Tak hanya konsep pendidikan dengan kurikulum yang selama ini dikenal.

Untuk itulah masyarakat Sulsel patut bersyukur. Sebab, daerah ini menjadi wilayah pelaksanaan program pendidikan dasar terdesentralisasi (Desentralized Basic Education).

(Hasil wawancara khusus ini di muat di harian FAJAR edisi Ahad, 8 April 2007)

08 Desember, 2007

Mengenang 11 Tahun Wafatnya Gurutta Ambo Dalle

Jumat, 30-11-2007
Pernah Larang Santri Jadi PNS
Mengenang 11 Tahun Wafatnya Gurutta Ambo Dalle
Suara Kiai Haji Muhhamad Yunus Shamad Lc terdengar parau saat menceritakan kesannya bersama mendiang gurunya, Gurutta KH Abdurrahman Ambo Dalle, tiga dekade lalu.
Dia larut dalam emosinya saat bicara di depan sekitar 800-an orang memadati Gedung Serba Guna Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar, Kamis (29/11).
"Gurutta tidak cuma mengajarkan apa itu ikhlas. Setiap perbuatannya dia menunjukkannya kepada kita," katanya mengawali sambutan singkatnya di acara mengenang (haul) XI wafatnya pendiri Darud Dakwah Wal Irsyad (DDI) itu, sebuah organisasi kemasyarakatan (ormas) berbasis pendidikan dan dakwah Islam di Sulsel, 60 tahun lalu.
Yunus adalah salah satu orang dekat Gurutta. Di awal ceramahnya, dia memperkenalkan diri sebagai "supir Gurutta".
Sejak Ambo Dalle mendirikan Pondok Pesantren Manahilil Ulum DDI Kaballangang, Pinrang, 1976, dia sudah makkanre guru, tinggal dan belajar di rumah sang Guru.
"Sepulang dari Kairo (Mesir), tahun 1981 hingga setahun sebelum wafatnya (1996), saya masih selalu selalu mendampingi dan melihatnya menolak undangan pejabat pemerintah, dan lebih memilih menghadiri undangan ceramah rakyat di desa terpencil. Itu kalau undangan dari desa lebih dulu," ujar Kepala Bidang Pendidikan Keagamaan dan Pondok Pesantren (PK Pontren) Kantor Wilayah Departemen Agama (Kanwil Depag) Sulsel ini.
Dia bahkan sempat terisak saat mengenang bagaimana dia melanggar pesan pendiri Madrasah Arabiyah Islamiyah (MAI), cikap bakal Ponpes DDI Mangkoso, Barru (1939) ini, soal kaitan keikhlasan dan pekerjaan.
"Saat beliau sudah sakit-sakitan saya jadi PNS. Padahal dia selalu menyarankan muridnya tidak makan gaji dari pemerintah. dan.. "
Sampai pada pesan Gurutta untuk tidak jadi abdi negara ini, Yunus yang juga alumnus Universitas Al Azhar, Kairo ini terhenti sejenak.
Dia seakan membiarkan keheningan meliputi gedung seukuran dua kali lapangan bulu tangkis ini.
Beberapa alumnus DDI yang duduk di kursi bagian depan, VIP, seperti Prof Dr Qasim Mathar, dua anak kandung Gurutta, Dr Rusdi Ambo Dalle dan Halim Ambo Dalle, Ketua PB DDI Prof Dr Muiz Kabry, terlihat tersenyum.
"Bahkan," lanjutnya, "Gubernur Andi Oddang (1977-1982) dan Pak Abdurrahman K (Kakanwil Depag Sulsel) yang secara khusus datang meminta izin ke Gurutta ditolak mengangkat murid-muridnya dijadikan pegawai," katanya.
Makanya, dia berpesan "jangan jadi pegawai negeri", kali ini tawa dan tepuk tangan menggema di gedung itu. Bahkan Rahim Mas P Sajata, Kakandepag Makassar yang hadir juga tak kuasa menahan tertawa.
Pilihan menjadi PNS diakuinya dilematis. Saat menangani proyek pengembangan pesantren di depag, dia terus mengingat hikmah dan alasan mengapa Gurutta melarang muridnya jadi PNS.
"Jangan sampai, jabatan PNS itu membuatmu tidak ikhlas lagi mengajar dan gajinya membuatmu memakan makanan yang subhat," kata Yunus mengutip pesan gurunya.
Dalam yurisprrudensi hukum Islam, subhat adalah istilah yang digunakan untuk mendefenisikan status hukum yang "abu-abu", antara halal dan haram.
Ulama-ulama salafiyah yang berhaluan ahlu sunnah wal jamaah, (ajaran ini juga diamalkan di organisasi Nahdlatul Ulama (NU) yang mengamalkan ajaran ketuhanan (sufisme) cenderung menghindari makanan, minuman, yang asal-usulnya dia ragukan.
Imam besar Masjid Raya Makassar, KH Muhammad Makka (67) yang juga mengaku murid langsung dari Gurutta Ambo Dalle, mengungkapkan dampak dari makanan yang subhat itu.
"Saya ikut terus pesan Gurutta, tidak makan gaji pemerintah. dan inilah mungkin yang membuat saya sampai sekarang tak pakai kacamata dan tetap bisa menjaga hafalan (Al Quran) 30 juz-ku," ujarnya kepada tribun, pekan lalu.
Namun bagi Yunus, larangan mengabdi untuk negara ini hanya disampaikan terbatas di kalangan terdekat murid-murid gurutta dan tidak disebar luaskan ke publik.
"Itu lebih merupakan sikap dan pilihan hidup dan politik Gurutta. Bukan fatwa."
Pilihan Gurutta untuk berseberangan dengan pemerintah ini bisa dimaklumi.
Selain melarang jadi PNS, satu lagi larangan Gurutta yang terkesan "aneh"; melarang nonton acara tinju.
Nonton tinju itu, kata Ambo Dalle, seperti membiarkan adu domba antarmanusia.
Di masa perang revolusi, usai kemerdekaan, Ambo Dalle oleh sejarah dicatat sebagai Menteri bidang Tarbiyah Islamiyah DI/TII, pimpinan Abdul Aziz Qahhar Mudzakkar, yang oleh pemerintahan Soekarno dikategorikan separatis yang mengganggu perjuangan revolusi kemerdekaan.
"Gurutta berhasil diloloskan keluar dari hutan oleh pasukan TNI pimpinan Kapten Andi Patonangi (Bupati pertama Pinrang, yang kemudian memberinya lahan untuk mendirikan Ponpes DDI Kaballangang)," demikian jejak sejarah Gurutta yang dibacakan di haul itu oleh Sekjen PB DDI Saiful Jihad.
Toh, buktinya salah seorang murid kesayangan Gurutta, KH Ali Yafie, yang juga mantan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), hanya didiamkan saat memilih mengabdi di pemerintah.
Baginya, larangan jadi PNS itu lebih merupakan refleksi dari pola hidup Gurutta yang begitu takut kepada Allah.
Keihlasan, tidak berbuat hasad (menceritakan atau memberikan penilaian) terhadap perilaku seseorang, teguh pendirian, santun dalam berkata, dan tak pernah putusa asa adalah teladan yang kemudian banyak menjadikan ulama-ulama terdahulu terlihat hidup sederhana, dan bersikap, dan cenderung tak lagi dimiliki ulama-ulama sekarang.
Dan setidaknya, cerita-cerita soal kemuliaan dan kisah-kisah ketidakbiasaan seperti uang yang tiba-tiba ada di bawah bantal, dan banyak lagi kemuliaan Gurutta, tak sedkit membuat hadirin mengeluarkan air mata.
Putra tertua AGH Ambo Dalle, Dr Rusdy Ambo Dalle, terbang khusus dari Jakarta ke Makassar untuk menghadiri acara tersebut.
Deklarator dan Wakil Ketua Umum Pimpinan Kolektif Nasional (PKN) Patrai Demokrasi Pembaruan (PDP) ini mengaku terharu atas sikap warga Sulsel terhadap bapaknya.
"Saya sangat terharu dan berterima kasih karena masih ada orang yang mengingat gurutta (AGH Ambo Dalle). Masih ada teman-teman yang mau memperingati haul Gurutta ini," jelas Rusdy.

Potret Buram Anak Indonesia

Oleh : Rifah Zainani

Asisten Project Officer Program Pendidikan Anak, Kerjasama LSAF - UNICEF

”Kami bukanlah sumber masalah, kami adalah sumber daya yang dibutuhkan untuk memecahkan masalah. Kami bukanlah pengeluaran, kami adalah investasi. Kami bukan hanya orang muda, kami adalah manusia dan penduduk dunia. Sampai orang lain mau menerima tanggungjawabnya terhadap kami, kami akan berjuang untuk hak-hak kami.”

Ikrar di atas disampaikan oleh anak-anak pada pembukaan Sidang Umum PBB untuk Anak pada tanggal 8 Mei 2002 di New York, Amerika Serikat. Ikrar tersebut memang sudah lima tahun lalu disampaikan. Namun hingga saat ini nasib anak-anak, khususnya anak Indonesia belum menunjukan perubahan yang berarti.

Untuk itulah, peringatan Hari Anak Indonesia yang jatuh pada tanggal 23 Juli 2007 ini, menjadi momentum bagi kita untuk merefleksikan kembali tentang anak sebagai generasi penerus bangsa dan negara. Sebab, fakta tentang kondisi anak Indonesia sampai saat ini masih sangat memprihatinkan. Masih banyak anak Indonesia yang hidup tanpa hak dan perlindungan yang layak. Hampir setiap hari kita dikejutkan oleh berbagai pemberitaan tentang tindak kekerasan yang dialami oleh mereka, seperti kasus yang baru-baru terjadi, yaitu pembunuhan mutulasi terhadap seorang anak Sekolah Dasar Bandung yang disertai dengan mengambilan beberapa organ tubuh korban.

Menurut data Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA), pada tahun 2006 telah terjadi 1.124 kasus kekerasan terhadap anak Indonesia. Dari jumlah itu, 451 berupa kekerasan psikis, 426 kekerasan seksual, dan 247 lainnya adalah kekerasan fisik. Sementara itu, locus atau tempat terjadinya tindak kekerasan paling banyak adalah di lingkungan sosial 35,03 persen, domestik atau rumah tangga 32,70 persen, dan sekolah 32,27 persen.

Dalam ranah sosial, anak memang sangat rentan mengalami berbagai tindak kekerasan, karena mereka dianggap sebagai kelompok yang lemah. Berbagai bentuk tindak kejahatan dan kekerasan terhadap anak seringkali berlaku. Tapi ironisnya, sebagai sumber daya mereka dimanfaatkan. Sementara pihak keluarga yang seharusnya menjadi benteng utama dalam memberikan perlindungan kepada anak, ternyata tidak mampu memberikan rasa aman dan nyaman. Orang tua yang seharusnya memberikan contoh dan teladan, justru menjadi salah satu elemen pelaku tindak kekerasan terhadap mereka. Seperti kasus incest yang dialami oleh tiga orang kakak beradik di salah satu desa di Jawa Tengah. Mereka telah menjadi budak seks ayah kandungnya sendiri selama berbulan-bulan hingga melahirkan. Sebuah potret ironi fungsi dan peran keluarga bagi anak.

Adapun sekolah, yang seharusnya berfungsi sebagai lembaga pendidikan yang bertujuan mendidik anak agar memiliki budi pekerti yang baik serta tumbuh sehat secara mental-spiritual, juga memberikan kontribusi yang cukup tinggi terhadap praktek kekerasan. Seperti penegakan disiplin dengan cara-cara kekerasan, bullying dan sebagianya. Atas nama disiplin guru kerap kali menggunakan cara-cara kekerasan dalam mendidik anak. Karena dalam pandangan sebagian besar guru, mendidik dengan menggunakan tindak kekerasan dapat mengubah perilaku dan prestasi anak menjadi lebih baik. Padahal, mendidik dengan menggunakan tindak kekerasan sebagai mekanismenya, justru merupakan bentuk tindakan yang tidak terdidik.

Selain tindak kekerasan yang terjadi di sekolah, problem lain yang dihadapi anak adalah persolan anak putus sekolah. Kenyataan ini benar-benar mencerminkan buramnya dunia pendidikan Indonesia. Di satu sisi, sekolah kerap menjadi lokus berseminya tindak kekerasan terhadap anak. Sementara pada sisi yang lain, anak Indonesia sulit mendapatkan hak dasarnya untuk memperoleh pendidikan yang layak. Pada tingkat SD saja, dimana wajib belajar 9 tahun menjadi standarisasi, terdapat 61.673 anak yang putus sekolah, sementara pada tingkat SMP mencapai 87. 545 anak, sedangkan tingkat SMU 83.508 anak. Walaupun pemerintah sudah menetapkan program BOS (Biaya Operasional Sekolah) sebagai salah satu strategi untuk meringankan beban pendidikan bagi kalangan ekonomi menengah ke bawah, namun karena masih adanya berbagai macam pungutan dari sekolah, berupa uang gedung, pembelian buku yang tiap tahunnya berubah, transport, dan sebagainya, akhirnya tetap saja mereka yang berasal dari keluarga miskin tidak dapat mengenyam pendidikan.

Fakta di atas semakin runyam jika ditambah lagi dengan kondisi jutaan anak Indonesia lainnya yang menderita akibat kelaparan, wabah penyakit, busung lapar dan gizi buruk. Mohammad Dani, seorang balita berusia 1 tahun warga Koja, Jakarta Utara meninggal dunia akibat menderita gizi buruk. Dari data yang ada di Suku Dinas Kesehatan Kotamadya Jakarta Utara saja, ditemukan jumlah anak penderita gizi buruk untuk wilayah Jakarta Utara sudah mencapai taraf yang mengkhawatirkan. Dari awal tahun hingga Mei 2007 sudah 119 balita positif menderita kekurangan gizi sangat akut, sementara 865 anak lainnya berpotensi menderita penyakit tersebut (Koran Tempo, 30/05/07)

Dapat dibayangkan berapa besarnya angka diatas, jika diakumulasi dengan data-data dari berbagai kota di Indonesia. Dapat dipastikan ribuan anak Indonesia hidup dalam kondisi yang sangat mengenaskan. Lalu, bagaimana kita dapat menciptakan generasi yang memiliki kualitas fisik, mental-spiritual, kecerdasan dan kepribadian yang sehat dan tangguh sehingga dapat menjadi penerus bangsa dan negara, jika kondisi anak Indonesia seperti ini? Mereka adalah pemilik dan pewaris masa depan. Tetapi potret kehidupan mereka sangat buram dan tragis. .

Sementara itu, hak anak yang merupakan bagian integral dari Hak Asasi Manusia sebagaimana yang termuat dalam UUD 1945 maupun Konvensi Hak-Hak Anak PBB yang telah diratifikasi oleh Indonesia ke dalam Keppres No.36/1990, belum sepenuhnya dijamin, dilindungi dan dipenuhi baik oleh orang tua, keluaraga, masyarakat, pemerintah dan negara.

Minimnya partisipasi dan keterlibatan anak dalam setiap aspek kehidupan menunjukan bahwa kita belum dapat memberikan dan menghormati hak-hak mereka. Sebagaimana ditulis oleh Mansour Faqih dalam pengantar buku Anak-Anak Membangun Kesadaran Kritis (2002), dalam proses bernegara, bermasyarakat, pendidikan maupun rumah tangga terdapat sistem, struktur, dan mekanisme yang merupakan cerminan dari ideologi dan keyakinan di kalangan ’orang dewasa’ yang menolak partisipasi anak dalam kehidupan sosial, politik dan budaya, karena mereka dianggap belum perlu diminta atau didengar pandangannya tentang bagaimana proses dalam negara, masyarakat, bahkan dalam penyelenggaraan sekolah di mana secara langsung mereka terlibat di dalamnya. Banyak organisasi negara, masyarakat, sekolah maupun rumah tangga yang menolak untuk mendengarkan anak-anak ketika mereka hendak menetapkan kebijakan yang secara langsung menyangkut kehidupan anak-anak.

Akhirnya potret anak Indonesia hingga saat ini masih jauh dari menggembirakan. Banyak agenda yang realisasinya mereka nantikan, bagi pemenuhan hak mereka. Jika anak adalah cerminan masa depan sebuah bangsa dan negara, bukankah fakta itu berarti tragis dan ironisnya masa depan Indonesia?

(CONTOH POSTING)